Praktek Kerja Nyata Part 1

Setelah menghadiri pembukaan PKN berupa hiburan pesta rakyat, maka aku dan
istriku bersama mbah Kotim,tetua desa yang umurnya katanya sekitar 75
tahun, memakai celana pendek komprang dan baju hitam memakai ikat kepala
dengan kendaraanku menuju rumahnya yang agak terpencil sekitar 100 meter
dari perumahan desa yang terdekat.

Begitu memasuki ruang tamu rumah mbah Kotim yang besar dan kuno itu, bau
kemenyanpun mulai tercium. Mbah Kotimpun mempersilahkan masuk dan kamar di
belakang ruang tamu sebelah kanan tertutup dan bau kemenyan begitu
menyengat dari kamar itu.
Di belakang kamar itu adalah ruang keluarga dan kamar untuk tempat aku dan
istriku menginap tepat di depan ruang keluarga itu.
“Ini kamarnya mas, jangan sungkan” kata mbah Kotim mempersilahkan kami
berdua masuk. Akupun heran rumah kuno, tapi tempat tidurnya dunlopilo yang
lebar dan empuk, lantainya memakai karpet.
“Mas, aku nggak begitu suka bau kemenyan, kayaknya mbah Kotim itu dukun,”
kata istriku. Akupun menceritakan yang aku dengar dari penjual rokok,kalau
mbah Kotim adalah gurunya Pak Carik, yang berumur 60 tahunan itu, sehingga
pak Kades boleh dikatakan hanya boneka saja, dan segalanya yang mengatur
di desa itu adalah Pak Carik.

“Makanya …….” istriku tak meneruskan kata-katanya sambil memandangku
tajam. “Makanya apa,dik,’ tanyaku. Istrikupun diam. Akhirnya, “Mas, jangan
marah, ya,” katanya manja. “Lho, gak ada angin gak ada hujan, kok marah,
apa aku sedikit, gila?” tanyaku. “Bener, mas nggak marah? Akupun
menggeleng.
“Makanya, pak Carik selalu memandang dadaku dan selangkanganku, mas dan
hatikupun bergetar ketika dia memandang payudara dan selangkanganku
rasanya seperti ransangan. Memang istriku memakai blouse yang agak rendah
dan ketat waktu pesta rakyat tadi sehingga payudara yang berukuran 36B
agak tersembul, sedangkan rok spannya yang terbuat dari bahan elastis
memperlihatkan pantatnya yang bahenol dan empuk itu, walaupun perutnya
tidak ramping karena sudah dua kali mengandung.
Istriku yang cukup mungil dengan tinggi 155 cm, berwajah menarik seperti
bintang Film Mandarin, meskipun kulitnya sawo matang dengan rambut pendek
sehingga tampak lebih muda dari usianya yang menginjak 40 tahun.
Sering istriku berkata agar para mahasiswanya tidak bosan dengan kuliah
yang diberikan istriku.
“Semakin lama Pak Carik memandangku, putingku yang memang besar itu,
semakin mengeras dan menonjol, mas.” kata istriku. Ya,dalam keadaan biasa
puting susu istriku sebesar setengah penghapus steadler yang kecil.
Hatikupun berdegup semakin keras, ketika istriku meneruskan ceritanya.
“Mas, jangan marah ya.. Aku menggeleng lagi. “Vaginaku basah,mas,
lihatlah, kata istriku sambil menyingkap rok spannya. Dan kulihat CD
istrikupun basah seperti ngompol.
“Kau, terangsang, dik? Tanyaku dan istrikupun memelorotkan CD nya dan
langsung menarik tanganku di pangkal pahanya yang ditumbuhi jembut lebat.
Kurasakan empik (bibir vagina) nya basah kuyup yang berarti istriku sangat
terangsang. Dengan tergesa-gesa istrikupun melepas paksa celanaku, hingga
kontolku yang sudah ngaceng mendengarkan ceritanya dielusnya dan dikocok
pelan oleh tangan mungilnya, kocokan tangannya yang lembut semakin, cepat
dan ” Oh, dik, aku keluar dan crot.. crot..crot, pejukupun muncrat.
“Maafkan mas…,” kataku sambil ku peluk tubuh istriku yang bahenol.
“Mas, jangan marah,ya?” Aku menggeleng “Mas, rupanya sangat terangsang
dengan ceritaku tadi.” Aku hanya memeluk erat tubuh istriku.
“Maafkan,mas,” kataku.
“Mas, nggak marah, aku terangsang karena pandangan Pak Carik tadi?” Tanya
istriku. “Kau suka dirangsang dengan pandangan pak Carik tadi?” aku balik
bertanya. Istrikupun memelukku erat. Karena diam, akupun berkata “Kalau
kau suka, akupun tak keberatan,” kataku. “Mas …..” istrikupun memeluk dan
menatapku. “Kau suka, dik,?” kubisikan pada telinga istriku.
“Aku …..,” istriku tak meneruskan kata-katanya. “Kenapa? Ceritakan saja,
mulai kapan kau merahasiakan sesuatu padaku? tanyaku.
Istrikupun menarik tanganku sehingga kami berdua duduk di pinggir kasur
empuk itu. “Mas, tadi aku ….eeh …..pak Carik rasanya bukan hanya memandang
payudara dan selangkanganku …” Istriku terdiam. “Maksudmu …,” tanyaku.
“Jangan marah, ya mas..” Aku menggeleng dan memeluk bahunya.
“Rasanya tadi sepertinya tangan pak Carik meremas-remas payudaraku sampai
payudaraku semakin keras dan eeeh… mas putingku serasa dipelintir,
ditarik-tarik oleh jari-jari pak Carik. Aku …aku sampai binggung agar
putingku tak tampak menonjol karena aku pakai BH tipis,mas.”
Hatikupun berdegup dan kontolku yang tadinya sudah loyo mulai bereaksi
ketika istriku meneruskan ceritanya.
“Mas aku berusaha tidak mendesah ketika kurasakan payudaraku terasa
dikempot oleh mulut dan heeh ….tangankupun meremas tangan kursi ketika
puting-puting payudaraku serasa dikulum dan dijilati dan pak Carikpun
senyum senyum padaku”
“Mas terangsang ya,” tiba-tiba istriku nyeletuk dan tangannya langsung
mengelus kontolku yang ngaceng lagi.
“Mas ….. aku merasakan pahaku mulai terbuka dan mas ….kurasakan ada tangan
yang menyusup makin lama makin ke dalam. Akupun semakin panik begitu mas
pamit akan beli rokok dan pak Carikpun duduk di kursi yang tadi mas
duduki.”(Akupun teringat cerita penjual rokok). Akupun mencium rambut
istriku dan memeluknya.
“Kurasakan tangan itu menyibak celana dalamku dan tas kupun ku taruh
pangkuanku , heeh … jari-jari itu pun menyibak empik(bibir vagina) ku dan
terus mengelus-elusnya mas, dan akupun menggigit saputanganku ketika
jari-jari itu mulai memainkan itil(kelentit)ku dan pak Carikpun berbisik
padaku :”Enak, jeng?” dan jari-jari itupun semakin menggila mempermainkan
bibir vagina dan kelentitku”
Tangan istrikupun semakin cepat menggocok kontolku.
“Aku betul-betul terangsang, mas ….. apalagi jari-jari itu terasa menggbok
obok torok (lubang vagina)ku yang semakin basah, sedangkan putingku
disedot-sedot terus”
“Diiiik,dan crot… crot akupun keluar lagi. “Aduh…,’ Keluhku.
“Mas, kok keluar aku belum, mas…” kata istriku lirih. “Aku nggak kuat dik”

Istrikupun berdiri dan menarik kursi di hadapanku. “Mas tadi aku begini…”
Kulihat istriku memerankan yang tadi dia rasakan di”kerjain” pak Carik,
tapi istriku kini melepas BH nya tetapi tetap memakai blouse nya mulai
dari tangannya meremas tangan kursi, kakinya agak terbuka, memangku tas,
sedangkan pantatnya menahan goyangan nafsunya dan akupun ngaceng lagi ,

Istrikupun berdiri dan menarik kursi di hadapanku. “Mas tadi aku begini…”
Kulihat istriku memerankan yang tadi dia rasakan di”kerjain” pak Carik,
tapi istriku kini melepas BH nya tetapi tetap memakai blouse nya mulai
dari tangannya meremas tangan kursi, kakinya agak terbuka, memangku tas,
sedangkan pantatnya menahan goyangan nafsunya, dan akupun ngaceng lagi dan
dengan serta merta istriku memegang kontolku dan mengkangkangkan kakinya
di pangkuanku. Karena sangat tergesa-gesa maka kontolkupun tidak ke lubang
vagina istriku, tetapi diantara pangkal paha dan jembutnya yang lebat
menggesek kontolku dan ooh …… cret …cret ..cret aku keluar lagi dan
kepalakupun pening karena aku hanya dapat kuat keluar dua kali.
“Maasss ….” istriku mendesah. “Maafkan mas, sayang aku nggak kuat”
Istrikupun berdiri dan mengocok kontolku yang loyo dengan cepat.
“Mas, aku pingin, mas, aku belum apa-apa, eeh mas nanti pak Carik datang,
lho kalau tahu mas loyo. Gimana, mas, gimana, tangannya yang keriput
meremas payudaraku, mulutnya yang sudah ompong megulum putting-putingku
……..Dan akupun ngaceng lagi, tetapi karena istriku cepat sekali mengocok
kontolku dan “diiiiiiik crot ..crot …crot.. maniku yang sudah encer
membasahi karpet merah kamar itu.
“Maafkan,aku dik dan kepalakupun terasa berputar, akupun terbaring di
kasur empuk itu.
“Maas, nanti pak Carik datang, lho, dan daaaar petirpun menyambar keras
dan hujanpun turun dengan deras.
Istrikupun terus mengocok kontolku yang lemas dan terus berusaha
membangkitkanku dengan kata-kata joroknya yang tak pernah diucapkan
sebelumnya “Mas, aku takut pak Carik menggosok empikku (aku tak pernah
istriku bicara seperti ini), terus itilku dan kontolkupun terasa mengeras
dan istriku meneruskan cerita pornonya : “Itilku dipencet-pencet, mas dan
torokku mulai di …….. dan crot …crot …..crot rasanya tak ada lagi air
maniku yang keluar dan kepalakupun semakin pening dan aku sempat melihat
jam dinding menunjukkan pukul 19.15.

Aku terbangun ruangan kamar gelap dan jam weker diatas tempat tidur
menunjukkan pk. 19.55 dan aku terbangun karena ada suara rintihan di ruang
keluarga.
“Jangan, mbah……” “Sssssst …”suara mbah Kotim
Akupun kaget bukan alang kepalang karena desahan dan rintihan itu semakin
jelas “Mbaah, mbaaah Kotim,” kudengar rintihan istriku dan yang aku sudah
lemas berusaha bangkit tapi tak kuasa tubuhku terasa remuk dan kedua
lututku bergetar. Dengan tenaga tersisa akupun menjatuhkan diriku ke
karpet dan dengan tenaga yang tersisa di tangan aku merayap ke pintu kamar
yang terbuka ¼ tetapi selambunya masih tertutup rapat.
“Heeh ….. heeeh ….” rintihan istrikupun semakin sering dan dari bawah
pintu kedua matakupun terbelalak, ku lihat istriku yang seksi itu dan
masih mengenakan blouse dan rok spannya berdiri menggoyang ngoyangkan
pantatnya yang bahenol berputar-putar seperti permainan holahop.
“Mbaah …mbaaah Kotim….” dan kini pangkal paha istrikupun maju mundur
seperti orang yang bersetubuh. Kedua tangannya meremas-remas pantatnya
sendiri.
“Nanti suamiku bangun, mbah..”
“Suamimu paling sudah loyo, ayo sini jeng”, perintahnya dan kulihat jari
telunjuknya memerintahkan untuk mendekat dan “ooh mbaaaaaah ….” pangkal
paha istrikupun ke depan dan terangkat seolah olah pangkal pahanya ditarik
ke atas sehingga istriku berjalan majupun kesulitan mendekati Mbah Kotim
yang duduk di kursi panjang menghadap ke televisi yang menempel di kamar
gelap sehingga tampak dari samping. Begitu tepat di depan mbah Kotim,
istrikupun mengerang “Mbaaaaaaah…….” dan kedua tangan istriku mendekap
erat pangkal pahanya yang semakin terangkat ke atas mengendur terangkat ke
atas lagi.
” Mbaaah suuudddaaaah mbaaaah” istriku memohon. “Oooohhhh ……..oooooah
…..heeeeh naantiiii suamikuuuu oooohh…..banguuuun……”
“Kalau bangun, mau apa suamimu sudah loyo, kan? Paling dia suka melihat
jeng begini. Enak, kan? Bagaimana kalau begini? Pangkal paha istrikupun
tersentak keras sehingga hanya beberapa jengkal di depan wajah keriput
mbah Kotim dan kembali pantat istrikupun maju mundur.
“Kenapa tangan mu menutup pangkal pahamu, jeng?”
Heeh …heeh” istriku hanya mendesah.” Kenapa ?” mbah Kotim menghardik. “Anu
mbaaah, anu ….”
“Anu apa, heh?”. “Anuku….”
“Anu apa?! mbah Kotim membentak. “Masih pakai rok kok ditutupi tangan
segala. Anu apa?!
“Aaaaah……..” istrikupun menjerit tertahan dan pangkal paha yang dibekap
kedua tangannya tepat di wajah keriput mbah Kotim.
“Tempikku, mbah” dan akupun semakin terbelalak mendengar ucapan jorok
istriku kepada orang yang selayaknya jadi kakeknya.
Tanpa berkata tangan keriput mbah Kotimpun menyusup di rok span elastis
istriku sambil mengusap paha mulus istriku terus naik sehingga rok istriku
mulai tersingkap memperlihatkan kedua paha mulus istriku dan langsung
menyusup di selangkangan istriku.
“Jembutmu lebat, jeng. Wow kau sudah basah,ya”
“Oooooh” istrikupun melenguh ketika tangan keriput mbah Kotim bergerak
mengelus pangkal paha istriku dan kemudian terdengar bunyi “cek….cek….
cek…..”. “Ooh mbaah ….heehh”
“Tempikmu basah, jembutmu juga, jeng” sambil tangannya yang menyusup di
rok istriku bergerak cepat sehingga bunyi kecepak dari pangkal paha
istrikupun semakin keras.
“Suddaaah, mbah,”pinta istriku memelas.
“Kamu capek, ya jeng? Istrikupun menggangguk dan mbah Kotimpun menarik
tangan kanan istriku sehingga istriku dipangku oleh mbah Kotim
menghadapku.
Tangan kanan mbah Kotim mengkangkangkan kaki kanan istriku sedangkan
tangan kirinya memeluk pinggang istriku sehingga dari tempatku mengintip
terlihat jelas jembut lebat istriku.
“Mbaaaah…..” desah istriku ketika tangan kanan mbah Kotim menggosok
pangkal paha istriku
“Ooooh, mbaaaaaah,” istriku merintih ketika kulihat tangan keriput itu
membuka lebar bibir vagina istriku.
“Heeeh .. heeh… heeeh,” nafas istriku memburu
“Itilmu sudah keras, jeng.”kulihat telunjuk keriput mbah Kotim
mempermainkan itil istriku
“Mbaaaaah ……..”
“Jeng aku lebih suka dipanggil mbah Kotim,” tiba-tiba mbah Kotim membentak
dan tangan kirinya menjambak rambut pendek istriku hingga tenggadah.
“Iii ya, mbah Kotiiiimmm,”
“Lha begitu bagus,” mbah Kotimpun melepas rambut istriku dan
“Mbaaah Kootttttiiiiiim sakiiiiit……” istriku berteriak. “Itilku jangan
dicubit, mbah…….
“Gimana, kalau gini, enak, jeng?” Kulihat jari tengah mbah Kotim masuk ke
torok istriku dan jempolnya mempermainkan itil istriku.
“Mbaaah Kotiiiim…….”kini kulihat jari telunjuk, jari tengah dan jari manis
mbah Kotim masuk dan mengobok ngobok torok istriku yang mengelinjang
dipangkuannya. “Enak, jeng?”

“Mbaaah Kotiiiim…….”kini kulihat jari telunjuk, jari tengah dan jari manis
mbah Kotim masuk dan mengobok ngobok torok istriku yang mengelinjang
dipangkuannya. “Enak, jeng?”
“Iya, mbah Kotim heeehh enaaak,” desah istriku
Mbah Kotim lebih mengkangkangkan kaki kanan istriku dengan sikunya
sehingga aku melihat semakin jelas bagaimana jari mbah Kotim mengobok obok
torok istriku dan jempolnya mempermainkan itil istriku yang semakin
menggelinjang tak karuan.
“Ini yang disukai perempuan,” katanya
“Mmmbaaaaahhhhhh Kooootimmmmm ennnnnnnaaaaaaak,” kulihat telapak tangan
kanan mbah Kotim menghadap ke atas dan ketiga jarinya dikeluarkan sehingga
kulihat jari jari keriput itu keluar dari torok istriku dalam posisi
menekuk. Rupanya jari-jari keriput mbah Kotim menggaruk ngaruk bagian atas
torok istriku di daerah G Spot.
Istriku selama hanya memperbolehkan tanganku mengelus bagian luar saja di
tempik dan itilnya. Tak pernah kulakukan dengan gaya menggarruk seperti
yang dilakukan mbah Kotim di toroknya seperti yang kulihat ini.
Beberapa garukan, tangan kanan istrikupun memeluk bahu mbah Kotim
sedangkan kakinya mengkangkang lebar dan naik turun mengikuti garukan
jari-jari mbah Kotim di toroknya.
“Mmmbaaaahhhh Kotiiiiiimmm, akkkkkkkuu ……oooohhh taaaakk oooookkkkuaaaattt
oooohhhhhhh,”
dan pinggulnya mendekat pada tangan kanan mbah Kotim yang mengobok obok
toroknya dan tangan kiri istriku menarik tangan kanan mbah Kotim yang
semakin gila menggobok obok torok istriku dan kedua kaki istriku lurus
mengejang. “Kalau pejumu keluar bilang, jeng”
“MMppppfffff ….mbaaahhhh Koootttttttimm pejuku keluaaaaaarrrrrrrrrr
mmmpppfh”
Tubuh istriku yang mengelinjang hebat di peluk tangan kiri mbah Kotim yang
masih tampak kuat itu kulihat blouse istriku basah karena keringatnya.
Mbah Kotimpun berkeringat.
Istrikupun masih memeluk mbah Kotim. Beberapa saat kemudian.
“Enak kan, jeng?”
“Iya mbah Kotim,” Pernah suamimu melakukan seperti tadi
“Enggak, mbah Kotim. Biasanya suamiku kalau sudah loyo hanya menggosok
tempikku sampai pejuku keluar, tapi tidak selama dan senikmat tadi” ujar
istriku mengaku.
“Aku haus, jeng,” Istrikupun dipeluk mbah Kotim ketika akan berdiri dari
pangkuan mbah Kotim.
“Kemana? Khan ada ini,” tangan kanannyapun meremas payudara kiri istriku
dengan gerakan berputar dan kemudian berganti ke payudara kirinya yang
masih tertutup blousenya.
“Kalau susu dan kelamin perempuan sudah terkena tanganku akan gatal-gatal
kalau memakai kutang (BH) dan celana dalam. Termasuk punyamu, jeng”
“Mbah Kotim……aku mengajar…,” kata istriku
“Yah pokoknya jeng gak sanggup menahan gatal susu dan empikmu kalau pakai
kutang dan celana dalam. Tak tanggung bisa garuk-garuk tempik dan susumu.
dimuka orang. Kan jeng bisa pakai baju safari kayak ibu-ibu PKK.
Istrikupun mengernyitkan dahinya, “Blazer itu mbah Kotim,: kata istriku
“Emboh namanya apa” kata Mbah Kotim
“Heeeh Mbah Kotim aku heeh rasanya susuku ngrengseng Mbah Kotim rasanya
air susuku mau keluar.” kata istriku binggung.
“Ha ha ha, iya memang jeng, sekarang begitu pentil susumu dijilat oleh
laki-laki dewasa selain suamimu langsung susumu bereaksi dan air susumu
keluar.”
“Mbah Kotim aku ….. Mbah Kotiiiim …..aku diapakan saja?’
Tangan kiri Mbah Kotim meraih pundak istriku dan meremas sekali dan
“Mbah Kotiiiim ….” istriku menggelinjang
“Itu baru satu remasan, jeng … begitu pundakmu diremas terus itilmu
langsung keras dan gatal dan torokmu akan basah. Itu belum kalau
tengkukmu, bisa-bisa pejumu keluar kalau pas tepat di titik saraf yang
menghubungkan torok, itil, tempik dan pentil susumu,”kata Mbah Kotim
menerangkan kepada istriku.
“Kenapa Mbah Kotim melakukan ini semua padaku?”tanya istriku.
“Suamimu suka kalau jeng senang itu saja. Aku hanya membantu kalian
berdua.” kata Mbah Kotim.
“Aku malu, Mbah Kotim ‘kan nanti setiap lelaki akan menginginkanku, aku
ini kan mengajar Mbah, bukan seorang …..”
“Pelacur…..”sergah Mbah Kotim. “Jeng, kamu bukan pelacur jalanan,tapi jeng
kini sudah menjadi pelacur bagi orang yang berilmu tinggi. Karena mereka
akan tahu torokmu tersedia untuk dia, walaupun kamu memakai celana besi
sekalipun. Kontolnya akan menyelinap masuk torokmu.”
“Mbaaah ……,” istriku mendesah. “Suamiku nanti dengar lho, mbah,”
“Oooh tidak, dia sedang tidur pulas kecapaian, dia tak akan bisa berkutik
sekalipun dia melihat di depan mata kalau jeng sedang digitik orang
berilmu itu”
Kulihat tangan kanan Mbah Kotim yang sedang di selangkangan istriku
mengajungkan jempol, aku tahu isyarat itu ditujukan kepadaku.
“Aku takut sama suamiku, mbah,” kata istriku .”Mbaaah susuku semakin
mengeras dan ngrengseng mbah,”
“Dari tadi aku crita terus, aku juga semakin haus, jeng”
“Mbah mau minum…,” kata istriku dan membuka kancing blousenya.
Aku terhenyak karena payudara istriku semakin montok ketika tangan kanan
istriku mengeluarkan payudara kanannya yang dekat dengan bibir Mbah Kotim.

“Mbaaaah …. heeeh………,” istriku mendesah ketika ujung lidah Mbah Kotim
menempel di putting susu istriku dan seeeer kulihat air susu istriku
muncrat dan aku begitu heran ujung lidah Mbah Kotim bergetar sangat cepat
seperti sayap capung menjilati pentil susu istriku yang semakin banyak
mengeluarkan air susu dan heep “Ooooohhhh Mbah Kotiiiiiimmmmpfh….,”istriku
mendesah keras ketika mulut Mbah Kotim mencaplok payudara istriku yang
dengan refleknya memeluk kepala Mbah Kotim hingga ikat kepalanya lepas dan
kepala botak Mbah Kotim nongol.
“Mbah Kotiiiiiiiim akuuu ..geeelliiiii… ennnnaaaaak, Mbah Kotim ompoong
tak punya gigiiiii eeehh .. heeeh…… heeeehh,” istriku mengelinjang dan
semakin erat memeluk kepala botak mbah Kotim.
“ujung lidahmu mbaaaah….. oooohh … oooohhh enaaaaaaaak,” istriku mendesis
desis keenakkann dan tangan kanan Mbah Kotim pun menggosok tempik istriku
semakin cepat dan Mbah Kotim mengulangi aksinya memasukkan jari-jarinya ke
dalam torok istriku hingga
“mbaaahh akuuuuu keluaaaaaaaarrr eeeehhh mmmmpffff”
Istriku orgasme untuk kedua kalinya dan tangan kanan Mbah Kotim yang basah
oleh lendir istriku kini meremas-remas payudara istriku dan mulutnya terus
mengempot kedua putting susu istriku bergantian. Istrikupun terus mendesis
dan mendesah sampai air susu kedua payudaranya habis disedot Mbah Kotim.
Dan tak kunyana Mbah Kotim yang kurus itu tiba-tiba bangkit sambil
mengendong istriku dan istriku di dudukan kursi single sehingga istriku
menghadap pintu kamar dimana aku mengintip adegan panas istriku bersama
Mbah Kotim.
Mbah Kotim pun mengangat kedua kaki istriku dan mengkangkangkan
lebar-lebar di kedua tangan kursi yang besar dan empuk itu sehingga posisi
istriku sangat merangsang dengan kedua payudaranya yang sudah menyembul
keluar dari blousenya dan rok span elastisnya tersingkap sampai di
perutnya apalagi kakinya yang terangkat terkangkang lebar menampakkan
jembut lebatnya di selangkangan istriku.

Praktek Kerja Nyata Part 2

About kosmoseks

KosmoSeks Bukanlah Blog Porno melainkan kumpulan informasi, tips dan trik sehat dalam hubungan seksual

Posted on September 5, 2011, in Cerita Dewasa, Daun Muda and tagged , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: