Praktek Kerja Nyata Part 2

Praktek Kerja Nyata Part 1

Mbah Kotim pun mengangat kedua kaki istriku dan mengkangkangkan
lebar-lebar di kedua tangan kursi yang besar dan empuk itu sehingga posisi
istriku sangat merangsang dengan kedua payudaranya yang sudah menyembul
keluar dari blousenya dan rok span elastisnya tersingkap sampai di
perutnya apalagi kakinya yang terangkat terkangkang lebar menampakkan
jembut lebatnya di selangkangan istriku.

Mbah Kotim pun berjongkok tepat di selangkangan istriku dan kedua
tangannya yang keriput membuka lebar tempik istriku dan ujung lidah Mbah
Kotim yang bergetar cepat langsung menjilati itil dan tempik istriku
bergantian.
“Eeeeenaaaaakkkkkk mmbaaaaaah……..,” rintih istriku. “Suamiku tak pernah
menjilati heeeehhhh heeeehh itil daan teempiiik ku seperti iniiiii…. heeeh
….. heeeeh,’
Mbaaah mmbaaaah akuuuu keluaaaaaarrrr mmmmmpf oooooohhhhhh,” istrikupun
mengelinjang dan siku Mbah Kotim menekan kedua paha istriku dan kedua
tangannya yang keriput tapi kuat memegang kedua lengan istriku sehingga
hanya kepala istriku yang tersentak sentak ke depan merasakan kenikmatan.
Mbah Kotim tetap memegang istriku sehingga tubuhnya tak dapat bergerak dan
kepala istriku menengadah merasakan sisa kenikmatan dan nafasnya terengah
engah sehingga payudaranya yang sekarang lebih montok naik turun seirama
dengan nafasnya.
Untuk kesekian kalinya aku kaget, ketika Mbah Kotim menoleh ke arahku dan
hiiiih lidahnya menjulur panjang bercabang diujung lebih panjang dari
panjang kontolku yang 18 cm itu mungkin lebih dari 22 cm dan besarnya agak
lebih besar dari kontolku dan yang membuat ku ngeri ujung lidahnya yang
bercabang terus bergetar cepat. Istriku tetap menengadah sehingga dia tak
melihat kalau Mbah Kotim menoleh dan pandangan setannya tepat di kedua
mataku, wajah keriputnya menjadi sangat bengis dan memberi kesan
meremehkan diriku bahkan menginjak injak martabatku sebagai seorang suami
dan mulutkupun semakin kelu dan ternganga ketika Mbah Kotim
mendemonstrasikan lidahnya yang membesar dari ujung ke pangkal lidahnya
seperti bola tennis meliwati lidahnya dan hiiiiihhh lidah itu dapat
memelintir dan semakin besar kaleng parfum axe. kemudian Mbah Kotim
berpaling ke istriku
“Jeng, kau akan merasa awal kenikmatan yang tiada tara,” istrikupun
menunduk memandang wajah Mbah Kotim dan “eeeeh…..” istriku mendesah ketika
mulut Mbah Kotim mencaplok kemaluan istriku.
Tak lama kemudian, “mbaaah …. lidahmu kok masuk ke torokku, eeehhh
mbaaaahh ujjjuuung liiidaaahmu bergettttaaaarrrrr….oooooh mbaaaahhh
lidahmu ooooohhh besaaaaaar mbaaaaah oooohhh besaaaaarrr heeeh,”
kelihatannya Mbah Kotim menarik lidahnya.
“Enak, jeng?
“He eh, kok besar ya mbah, rasanya lebih besar dari kontol suamiku,”
istriku menerangkan. “Aku takut suamiku bangun karena teriakanku, mbah.”
“Dia tidur pulas lagi pula hujan deras di luar membuatnya semakin anler
atau kalau tetap nggak percaya biar kubawa sini”.
“jangan, mbah…,”pinta istriku
“Jeng, boleh teriak apa kau tak percaya kemampuan Mbah Kotim. Jangankan
suamimu seluruh orang desa tak akan berkutik padaku.”
“Iya mbah, aku percaya mmmpfff,” istriku mendesah lagi begitu mulut Mbah
Kotim melahap kemaluan istriku lagi.
“Ooooohhh mulai lagiii….. ooohh mbaaaah bessaaaaarrrr ooohhhh mbaaaaahh
semakin masuuukkk ke toroookkkkuuuu ooooohhh toroookkkkuuu sseeesssaaaakk
mbaaaah ooohhh koookk panjaaang sekaliiii liiiidaaaahmuu oooooh mmbaaahhhh
heeeh ooohhh koook teruuss masuk semakiiiin dalaaam ke torookkkuuu mmbaaah
ooohh ennnaaaak mbaaah oooh…. mbaahhh ujung lidahmu bergetaar semakiiin
kerrass…….
Memang istriku selalu meracau bila bersetubuh denganku dan menceritakan
kenikmatan yang dirasakannya sewaktu bersenggama dan racauan itupun
semakin jelas.
Yang tadinya aku tak percaya ketika Mbah Kotim menjulurkan lidahnya
mendemontrasikan padaku, kini aku percaya 100 persen ketika istriku
semakin keras merintih
“Mbaaaah lidahmu panjaaangg ddaaan oohh semakin besar ooohhh aku tak
pernaah sedalaam ini mmbaaah oooohh muuluuuut rahiiiiimkkuu oooooh
mbbbbaaaaaaah akkuuuuuu tak tahaaaaaan akkkkuuuuuu keluar
mbaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh.”
Istrikupun mengejang ketika orgasme yang ketiga dan kini tangan Mbah Kotim
melepas pelukan di tubuh istriku dan turun memeluk pantat istriku yang
bahenol.
Istrikupun memeluk erat kepala Mbah Kotim yang berambut jarang dan
“Oooh lidah mbah kok ooohh mentool kaaayaak bolaaa dipangkalnyaaa mbaaah
terlalu bessaaaar….aaahhh”
Istriku menekan pinggulnya kedepan, saking kerasnya Mbah Kotim yang
jongkok di antara kedua paha mulus istrikupun terjengkang dan tubuh
istrikupun terikut sehingga posisi Mbah Kotim telentang di lantai
sedangkan posisi istriku jongkok seperti katak menghadap tempatku
mengintip dan kedua tangannya di lantai dimana lidah Mbah Kotim tetap di
dalam torok istriku.
“Mbaaah heeeh heeeh rasanya bola itu mulai ooooohhhh maaaassuuuuk ke
dalaaaammm tooorokkuuuu….aahhh mbbaaaahhh Koootiiiiiimm’
Kedua tangan Mbah Kotim tetap memegang pantat istriku dan meremas remasnya
.
“sudah mbah .. lepaskan mbah oooohhhh aku tak kuat mbah ooooohh
mbaaaaaahhhh aampuuuun mbaaah ampuuuuuuun mbaaaaaah ooooh mulut rahimku
ooooh bolanya ooooohhhh sssaaaakkiiiiiiiiiiiiiiiiitttt”
Istrikupun berusaha menggangkat pinggulnya agar lidah Mbah Kotim terlepas
dari toroknya tangan istriku berusaha menggapai benda di dekatnya untuk
tumpuan.
“ooohhhhh sssaaaaakkkiiiiiiiitt mbaaaaaahhhh ooohhhh,” istriku
mengeluarkan airmatanya.
Istriku kini tersungkur lemas beberapa saat kemudian kedua tangannya mulai
menopang tubuhnya sedangkan posisi kakinya tetap jongkok terkangkang
lebar. Istriku mengusap air matanya dan beberapa saat kemudian pantat
istrikupun menekan ke bawah ke kepala Mbah Kotim.
“Mbah oooohh oooohhh” dan pinggul istrikupun naik turun makin lama semakin
cepat sepertinya lidah Mbah Kotim menyetubuhi istriku.
“Mbaaaah ooooohhh ennaaaak……..,” desis istriku dan pinggulnya seperti
terkena aliran listrik yang besar sehingga naik turun dengan cepatnya
sedangkan tubuh istriku tegak dan kedua tangannya bertumpu di sisi kepala
Mbah Kotim sampai akhirnya
“Mbaaaaahh akkkuuuuuu gaaaaak kuaaaaattt ooooh mbaaaaaaaaaah aku
keluuuuuuuaaaaaaaaaar,.”

“Mbaaaaahh akkkuuuuuu gaaaaak kuaaaaattt ooooh mbaaaaaaaaaah aku
keluuuuuuuaaaaaaaaaar,.”

Tubuh istrikupun jatuh tertelentang setelah mengejang beberapa saat karena
orgasmenya yang keempat sehingga kepala istriku dikaki Mbah Kotim kakinya
tertekuk dan kedua paha istriku menjepit kepala Mbah Kotim.
Baru kali ini istriku orgasme lebih dari tiga kali dan
“Mbaaaaaaah lidah mbah kok melintir begini oooooohh mbaaaaahh akuuuuuu
keluaaaar laaaagggggi heg…heg”
Gila istriku bisa orgasme yang ke lima kalinya dan kulihat dengan jelas
lidah Mbah Kotim mulai keluar dari torok istriku dan bibir vagina istriku
sepertinya membengkak.
“Heeeh,” desah istriku setelah lidahnya yang dilumuri cairan vagina
istriku keluar dari torok istriku.
Mbah Kotim pun melepaskan tubuhnya dari himpitan tubuh istriku dimana rok
spannya sudah naik di atas perutnya yang menyembul dan kedua payudaranya
tertutup blousenya yang tak terkancing.
Mbah Kotim kemudian menarik kedua kaki istriku yang sudah lunglai itu
mendekati pintu kamar tempatku mengintip dan dikangkangkan kedua kaki
istriku lebar-lebar karena hanya sekitar satu meter dari pintu kamar aku
dapat melihat liang vagina istriku yang terbuka.
Mbah Kotim pun memposisikan dirinya diantara kedua kaki istriku yang
terkangkang lebar dan memelorotkan celana komprang hitamnya, kulihat
istriku yang lunglai berusaha mengangkat kepalanya untuk melihat
selangkangan Mbah Kotim, tetapi karena baju hitamnya besar Jeng Yatiakin
istriku tak dapat melihat.
Akupun menjadi ngeri ketika Mbah Kotim memegang penisnya mengarahkan ke
liang vagina istriku betapa tidak karena kulihat begitu jelas kontol Mbah
Kotim sebesar kaleng Coca Cola dan panjang sekitar 25 cm dan helmnya lebih
besar dari kontolnya sehingga seperti jamur besar dan hhiiiiihh aku begitu
jijik melihat urat-urat kontol Mbah Kotim yang sebesar cacing tanah
menonjol dan melingkar tak beraturan di permukaan kontol Mbah Kotim.
Istriku mengelinjang lemah ketika ujung kontol Mbah Kotim digesek-gesekkan
ke bibir vagina istriku dan kemudian ke itil istriku dan akhirnya ujung
kontol Mbah Kotim ditempel kan ke liang vagina istriku yang menganga lebar
itu.
“heeeggh oooh …” Mbah Kotim pun menekan kontolnya ke liang vagina istriku
“Sudaaah mbaaaahh”
“Lho kontolku belum masuk kok bilang sudah ini rasakan”
“Mmm oooohhh mmbaaahh kkontolmuuu terlalu besaar buatku mbaaahh”
Istriku terpekik ketika dengan kasarnya Mbah Kotim memasukkan helm
kontolnya ke liang vagina istriku sehingga kulihat bibir vagina istriku
terlihat mengelembung menerima besarnya helm kontol Mbah Kotim.
“Gimana, jeng kontolku? ” tanya Mbah Kotim
“Mbah, aku tak sanggup rasanya kontolmu terlalu besar mbah, rasanya
torokku sakit”
“Kalau dibandingkan dengan punya suamimu,”
“Kontol Mbah Kotim jauh lebih besar dari punya suamiku, tapi ini sakit,
mbah”
“Kalau begini….?”Mbah Kotim mengerak-ngerak kan helmnya sedikit masuk dan
menariknya,satu kali, dua kali
“Mbah ooooh torokkuu ooooh seperti digaruk garuk oooh oooh oooohh
ennnaaaaaak oooohh”rupanya lipatan helm kontol Mbah Kotim menggesek ngesek
G Spot istriku dan
“Mbaaah akuuuuuu oooooh aku mau keluaar oooooooooooooooohhhhhhhhheeggg
heeegghh”
istriku mengangkat pinggulnya ketika mencapai orgasmenya yang ke 6 dan
beberapa saat pinggul istriku terangkat dengan kasarnya Mbah Kotim menekan
masuk kontolnya ke liang vagina istriku dan jeritan istriku yang menyayat
pilu menggema di rumah Mbah Kotim dan sekitar 5 cm saja yang belum masuk.
Istrikupun dipeluk oleh Mbah Kotim.
“Sakit,jeng?
“heeh iya mbah, aku tak mampu,’
“Apanya yang tak mampu,”
“Torokku mbah, aku lemas mbah, tempikku rasanya sobek.”kata istriku
terisak.
“Sssst jangan nangis, kalau begini bagaimana,” Mbah Kotim mengerak
ngerakkan pinggulnya naik turun
“ooh oooooh mbaaahh bibir rahimku oooohh ooooh mbaaahh ennaaak terrus
terruuus terusss mbah hegh terus mbaah ooooh oooooh mbaahhh aaakuuuu
ooohhh akuuuu keluaaaaaaarrrr oooohh ……aiiiiiiiiiihhhhhh”
Istriku berteriak lagi ketika bersamaan dengan orgasme ke 7 nya Mbah Kotim
menusukkan kontolnya hingga amblas seluruhnya masuk ke liang vagina
istriku.
Mbah Kotim memeluk kembali istriku dan berkata “Kuambil keperawanan Jeng
Yatiang kedua, kontolku masuk ke rahimmu dan setelah ini jeng akan
merasakan kenikmatan yang lain”
“Heeehh” desah istriku ketika Mbah Kotim mulai menarik keluar kontolnya
dan
“Mbaah kontolmu ada apanya kok hhhehh geliii ennnaaak oooohhhh,” Mbah
Kotim menusukkan kembali kontolnya di liang vagina istriku
Untuk kedua kalinya Mbah Kotim menarik kontolnya terus sampai hanya
helmnya yang masih berada di dalam liang vagina istriku sehingga terlihat
bibir vagina istriku menyembul keluar dan istriku merintih keenakkan “mbah
Kontol mbah ennaaaaak seperti tidak rata”
Mbah Kotim pun menusuk kembali dan makin lama semakin cepat dan istrikupun
mendesah dan tubuhnya mengelinjang hebat sedangkan bibir vaginanya keluar
masukmengikuti irama hujaman dan tarikan kontol Mbah Kotim.
“Peluk aku mbaaaaah akuu mauuu keluarr lagi oooohhhh mbaaaaahhhhhh
akuuuuuu keluar…. tubuh istrikupun menggelinjang dengan hebat pantatnya
terangkat sehingga posisi tidurnya bergeser dan aku dapat melihat wajah
istriku ketika mencapai orgasmenya yang ke 8.
Berikutnya kulihat istriku menekan tengkuk Mbah Kotim ke bawah dan
mengecup bibir Mbah Kotim dan istriku benar-benar sudah lagi merasa jijik
melumat bibir Mbah Kotim dan kulihat istriku terbeliak sesaat dan “heeh
heeh lidah Mbah Kotim masuk ke kerongkonganku hheh heeh aku haus mbah.
“Buka mulutmu. minum ludahku”
Istrikupun memalingkan wajahnya yang menampakkan kejijikan dan Mbah Kotim
mengenjot pantatnya naik turun dan
“oooh mbaaah oooohhh mbaahhh sudaaaaah ooooohh mbaaaahhhh aku
keluaaaaarrrrrrrrr hehe hegh hegh
Kulihat Mbah Kotim meludahi mulut istriku dan begitu banyaknya ludah dan
secara otomatis istriku menelan ludah Mbah Kotim.
Kudengar glek glek
“Minum ludahku lonte ayo terus minum lonteku,” kata Mbah Kotim.
Istriku yang selama ini ku sanjung sudah bukan lagi nyonya tetapi sudah
menjadi lonte Mbah Kotim.

“Minum ludahku lonte ayo terus minum lonteku,” kata Mbah Kotim.
Istriku yang selama ini ku sanjung sudah bukan lagi nyonya tetapi sudah
menjadi lonte Mbah Kotim.
Aku pun tak kuat membendung air mataku ketika istriku dengan keras
mengulang kata-kata Mbah Kotim: “Jeng Yati adalah lonte Mbah Kotim”
“Heeehh” istriku mendesah ketika Mbah Kotim mencabut kontolnya dari torok
istriku dan Mbah Kotim mengkangkangi tubuh lunglai istriku, kedua mata
istriku terbelalak melihat kontol Mbah Kotim yang besar dan panjang itu
“Ayo duduk lonteku”
Dengan susah payah istriku duduk dan kemudian menirukan kata-kata Mbah
Kotim
“Lonte Yati akan mengemut kontol Mbah Kotim.”kata istriku
Dan Mbah Kotim pun memaksakan kontolnya yang basah oleh lendir vagina
masuk ke mulut istriku dan mulai pantat Mbah Kotim maju mundur
“Ppppfff ppppfff,” suara itu berulang ulang
“Enak lonteku,” dan gerakan pantatnya maju mundur semakin cepat. “Lonte
Yati, Lonte Yati ennnaaak ,
ennaaak lonteku” Mbah Kotim memegang kepala istriku dan dengan brutal
mengeluar masukkan kontolnya di mulut istriku yang tak berdaya
“Lonteku aku mau keluaaar, telan air manikkuuu lonteku”
Kulihat pantat Mbah Kotim terhentak begitu dia ejakulasi di mulut istriku
dengan serta merta tangan kanannya memegang erat kepala istriku dan tangan
kirinya menutup lubang hidung istriku.
Kulihat istriku sempat tersedak dan kemudian dari gerakan leher istriku
kulihat istriku meminum airmani Mbah Kotim
Mbah Kotim meracau ” Minum pejuku lonte…. minum pejuku lonteku,”
Kulihat airmani Mbah Kotim ada yang meleleh dari mulut istriku ke dadanya
ke payudaranya yang semakin montok
Akupun berusaha kembali ke tempat tidur dan kudengar
“Aku takut masuk kamar mbah,”
“Masuk saja lonte,suamimu tidur, nih aku titip jariku malam ini”
Istrikupun kulihat mengendap masuk dan jalannya mengkangkang, rupanya Mbah
Kotim benar-benar menitipkan jarinya di liang vagina istriku
Sete lah membersihkan dirinya dan mengganti rok dan blousenya dengan
daster tanpa BH dan celana dalam istrikupun tidur disebelahku memelukku.
Sesaat kemudian istriku memunggungiku dan kontolku yang dari tadi lunglai
menjadi ngaceng begitu ketika dari kegelapan kulihat pantat istriku
bergoyang teratur dan makin lama tak beraturan dan memeluk guling sampai
dasternya tersingkap sehingga kulihat ritme goyangan istriku dengan jelas
dari pantat bahenol istriku.
Akupun mengocok kontolku yang tegang melihat pemandangan itu dan nafas
istrikupun semakin berat dan
“Heeh” kudengar istriku mendesah dan bersamaan dengan itu pejukupun
muncrat dan membuat aku tidur.

Pagi harinya aku tak mendapatkan istriku, kulihat sudah pukul 6.00. Dengan
membawa handuk aku menuju kamar mandi.
Tak tampak baik Mbah Kotim maupun istriku. kamar Mbah Kotim pun terbuka
tapi tak ada orangnya sampai akhirnya aku sampai pada kamar belakang. Mbah
Kotim menerangkan katanya dulu dipakai cucu lelakinya dan istrinya.
Ku dengar suara erangan istriku
“Mbaaah ennnnaaaak lebiih ennaaakk inniiii dari kontol Mbah Kotim yang
tadi malam, aku senang yang besar tapi loyo membuat torokku semakin gatal,
mbah…”
“Tahu gitu aku gak pakai ilmuku, Jeng Yati, lonteku”
Akupun mengintip dari lubang kunci dan kulihat istriku yang sudah
bersepatu dan berdandan memakai blazer kuning dan rok span hitam yang
sudah tersingkap memperlihatkan pantatnya tangannya berpengangan pada meja
rias sedang disetubuhi Mbah Kotim dari belakang dengan gaya doggy style

“Jeng Yati, lonteku, kau tambah cantik, bikin Mbah Kotim tak kuat”
“Aku juga mbaaah, ceppaaaat genjot kontolmu,mbaaah oooooh aku mau
keluaaaaar”
“Iya lonteku, ayoo samaa sammaaaa ooooh
Kulihat lelaki tua dan istriku yang dapat dikatakan cucunya mengelinjang
mengeluarkan mani bersama sama dan Jeng Yatiang juga beronani mengintip
perbuatan mereka.

Sete lah mandi kulihat mereka berdua duduk di ruang keluarga seperti tidak
terjadi apa-apa dan kamipun makan pagi bersama di meja makan
Sesekali kulihat tubuh istriku bergeser ke depan utamanya pantatnya tak
pernah diam. Aku pura-pura tidak tahu walaupun sebenarnya aku tahu kalau
jari-jari kaki Mbah Kotim menggarap itil dan tempik istriku karena mereka
berhadapan dan kaca lemari di belakang duduk Mbah Kotim memantulksn adegan
kedua kaki istriku yang terkangkang tanpa memakai celana dalam.
Aku tahu dengan ilmunya Mbah Kotim dapat memasukkan jempol kakinya yang
mungkin diperbesar seperti kontol ke dalam liang vagina istriku.

Begitu aku makan selesai, aku berpamitan ke kamar untuk mengambil HP dan
arloji ku.
Begitu aku masuk aku langsung mengintip dari selambu dan kini kedua tangan
istriku diantara selangkangannya memegangi kaki Mbah Kotim dan “heeh
heeeh” kudengar dengusan nafas istriku mencapai orgasme ke 2 pada pagi
itu.

Setelah aku rasa istriku tidak lagi memburu, aku keluar dari ruangan.
Terlihat istriku dan Mbah Kotim berlagak tidak terjadi apa-apa.

Aku dan istrikupun berangkat ke balai desa. Dalam perjalanan, tak terucap
satu patah katapun dari mulut istriku. Aku meras begitu bangga dengan
istriku yang kutahu bahwa tak ada lagi yang menutup kedua payudaranya
selain blazer kuningnya dan bila diperhatikan dengan seksama kedua pentil
susunya tampak menonjol dari balik blazer tebalnya.

Istriku memberi pengarahan pada mahasiswa PKN dan merekapun meninggalkan
tempat ke pos masing-masing untuk mengerjakan program-program hari Sabtu
itu. Kebetulan karena aku berada di dekat pelataran agak tersembunyi,
kudengar bisikan dari mahasiswa yang berbadan tegap, berkulit hitam dan
rupanya dia adalah anak Papua kepada temannya yang Cina,

Istriku memberi pengarahan pada mahasiswa PKN dan merekapun meninggalkan
tempat ke pos masing-masing untuk mengerjakan program-program hari Sabtu
itu. Kebetulan karena aku berada di dekat pelataran agak tersembunyi,
kudengar bisikan dari mahasiswa yang berbadan tegap, berkulit hitam dan
rupanya dia adalah anak Papua kepada temannya yang Cina,
“Lie, kau lihat Bu Yati tadi?”
“Ya, tambah montok,” kata anak Cina itu
“Bukan itu saja Lie, kelihatannya Bu Yati, nggak pakai BH dan celana
dalam,”
“Thomas, kau ngaco Thom, jangan berpikiran buruk begitu,” kata Lie
“Taring babi rusaku nanti yang bisa membuktikan,” kata Thomas
“Ah.. nggak ikutan, ayoo.. jangan berpikir jorok terus pada Bu Yati,” kata
Lie dan kulihat mereka tertawa-tawa meninggalkan pelataran Balai desa.
“Aku coba Lie…..ha … ha ….,” ku dengar ocehan Thomas.

Akupun menuju pendopo Balai Desa dan setelah memberi salam pada Pak Carik
yang layaknya kayak anak muda dengan memakai setelan kaos dagadu dan
memakai jean walaupun umurnya menginjak 60 tahun.

“Bu Yati, bisa ke kantor saya sebentar, hari ini Pak Kades sedang rapat ke
Kabupaten, ada yang perlu saya bicarakan dengan ibu” kata pak Carik.
“Ya, pak,” jawab istriku. “Tunggu ya, mas,” kata istriku berpamitan.

Aku menunggu di ruang tunggu di dekat kantor Pak Kades yang sepi karena
perangkat desa lainnya ditugaskan mengikuti kelompok-kelompok PKN.
Sete lah 30 menit berlalu, aku mulai gelisah dan entah mengapa seperti
terhipnotis aku kemudian terasa lemas dan kakiku seperti tertarik menuju
kantor Pak Carik yang tersembunyi di pojok belakang tetapi masih satu
bangunan dengan Balai Desa itu.

“Pak Cariiik……,” ku dengar rintihan istriku.
Akupun menuju jendela nako reyben di pojok ruangan. Rupanya jendela nako
itu sedikit terbuka dan selambunya tertutup.
Angin tiba-tiba berdesir sehingga tersingkap sedikit selambu Yang mentupi
jendela nako itu, dan ku lihat lagi pemandangan mesum dimana istriku
sedang bejalan mengikuti pak Carik yang menuju kursi kerjanya.
Istriku berjalan setapak setapak karena pinggulnya maju mundur dan
tertarik naik ke atas.
“Sudaaah, pak,” pinta istriku agar Pak Carik tidak mempermainkannya.
“Lho, belum apa-apa kok sudah to Bu Yati,” katanya. “Ayo lebih dekat sini
biar lebih cepat,”
Begitu Pak Carik duduk di kursi kerjanya, kulihat gerakan maju mundur
pinggul istriku semakin cepat sehingga tangannya tanpa sadar memegang
kedua pantatnya yang bahenol itu dan kelihatan bukannya menahan laju
goyangan pantatnya malah karena menahan terlalu kuat maka tangan istriku
menjadi meremas remas pantatnya sendiri.
“Wah Bu Yati, sudah “bolong”, ya,” tangan kiri pak Carik meraih pundak
istriku dan memijitnya.
“Oooooohh …… paaakk,” dan pangkal paha istrikupun terangkat naik
“Eeeehhhh …….,” istriku mendesah begitu tangan kanan Pak Carik menyusup di
rok span hitam istriku yang rupanya elastis menuju pangkal paha istriku.
“Oo eehh…….., jaaaaangaaaaan paaaak, ssuamikkku di luaaaarrr…..,” rintih
istriku
“OOO… jembutmu lebat Bu Yati, aku suka ini,” tangan kanannya semakin liar
menggosok ngosok selangkangan istriku.
Tangan kiri Pak Carik menarik tengkuk istriku yang menggelinjang sehingga
sampai istriku duduk di meja dan berhadapan dengan pak Carik yang duduk di
depannya.
Kedua Lutut istrikupun dibuka lebar dan kudengar Pak Carik menghirup
selangkangan istriku yang langsung mendesah-desah.
“Jaaangggaaaaaan paaaak ooohh heeeh ,,, oooohh…. heeeehhh,”
Pak carikpun semakin menekan kedua lutut istriku hingga rok span
elastisnya tersingkap dan mempertontonkan kedua paha mulusnya.
Kini suara hirupan dari selangkangan istriku semakin keras kecipak kecipuk
sampai akhirnya istriku pun tertelentang di meja kerja pak carik dan kedua
tangan istriku meraih apa saja yang bisa diremasnya dan kedua kaki
mulusnya terkangkang semakin lebar menerima serangan Pak Carik yang
semakin ganas.
Kedua tangan pak Carik yang sudah keriput itupun menyusup balzer kuning
istriku dan kulihat dibalik balzer istriku kedua tangan pak Carik meremas
remas kedua payudara istriku yang menjadi montok itu.

Pak Carikpun berdiri dan tangan kirinya menggobok ngobok selangkangan
istriku dan tangan kanannya membuka resleting celana jeannya tanpa melepas
ikat pinggang dan begitu tangannya meroogoh selangkangannya keluarlah
kontolnya yang tidak begitu tegang sebesar botol fanta dengan kepalanya
yang lebih besar dari batang kemaluannya.

Karena agak lemas kontolnya dipukul=pukulkan pada selangkangan istriku
yang bereaksi mengangkat pinggul bahenolnya sambil mendesah.” oooh
….oooooh …” pak .. pak .. pak.
Tangan kanannya terus memegang kontolnya sambil memukul=mukulkan di
selangkangan istriku sedangkan tangan kirinya membuka laci meja kerjanya,
rupanya Pak Carik mencari sesuatu di laci meja kerjanya dan kedua
tangannya membuka sesuatu. Ku tahu kondom. Se telah aku berkonsentrasi ku
lihat kondom itu begitu aneh berbintik bintik, bahkan tampak seperti
lingkaran-lingkaran kecil di permukaannya.
Istriku yang tertelentang di meja kerja pak carik terdiam sesaat ketika
Pak Carik memasang Kondom berdurinya dan kontolnya pun diarahkan ke
selangkangan istriku dan
“Oooohhh …..sssaaaakkiiiiiiiiitttt…..paaaaaaakkk ……..”
Istriku yang berusaha bangkit ditindih pak Carik yang dengan kasarnya
memasukkan kontolnya yang besar dan berduri ke dalam liang vagina istriku
yang berkelejot kesakitan.
“Ammmppuuunnnn paaaakkk, jangaaaan sakiti sayaaaaa……..” kudengar rintihan
istriku sedangkan kulihat pinggul pak Carik terus menurun sampai
“Kau sudah dobol, Bu Yati. Mbah Kotim sudah ndoboli rahimmu, ya” tanyanya
sambil menyambak rambut pendek istriku.
Akupun terhenyak dan aku berkehendak mendobrak pintu tapi belum kusentuh
pintu itu dengan tiba-tiba pintu itu terbuka.
“Sini, mas lihat sini,” Akupun tak dapat berkata apa-apa dan entah kenapa
aku mendekati meja kerja pak Carik dimana istriku tertelentang dengan
kedua kaki mulusnya yang terkangkang lebar.
“Sini dekat sini. mas,” dan braaaak pintu tertutup dengan keras.
“Maaaass maaa aafff, maaass,” istriku pun menjerit histeris ketika
melihatku mendekat.
“Ambil kursiku duduk disebelah sini,” akupun menurut perintah Pak Carik
dan duduk sehingga tampak jelas kontol Pak carik yang masih tersisa
sekitar lima centi di luar liang vagina istriku yang terus terisak.
“Bojomu sudah dobol, mas. Kalau perempuan rahimnya sudah didoboli dengan
kontol orang berilmu, maka setiap lelaki yang berilmu pasti akan ingin
nggitik nggentot bojomu, percaya aku… eeh ini enaak lonte…”

Pak carik mengenjot dengan keras dan rintihan istrikupun semakin menyayat
dan kini kulihat kontol berduri pak Carik dengan kekuatan penuh keluar
masuk liang vagina istriku dan kulihat jelas empik alias bibir vagina
istriku keluar masuk mengikuti keluar masuknya kontol berduri pak Carik.

Pak Carik menarik kontolnya dan melepas kondom berdurinya berputar
mengelilingi meja kerjanya dan mengarahkan kontolnya yang besar ke mulut
istriku yang tak berdaya dan kontol itupun dikeluarmasukkan ke mulut
istriku dengan ganas sehingga
“Lonteee Y, akuuu metuuuuu …… minum pejuuuuu kuuuuuu,” sambil terus
menekan kepala istriku di meja. dan tegukan demi tegukan dari kerongkongan
istriku terdengar hingga beberapa tetes air mani pak carik keluar dari
mulut istriku.
“Ayooo sedot Lonte Yati,” istriku menyedot nyedot kontol pak Carik hingga
bersih.

Pak Carik keluar dari ruangan dan aku pun tersadar melihat istriku
terkapar tak berdaya.
“maaf, mas,” katanya lirih akupun memeluk istriku.
Se telah ku dudukan dan akupun mengajak istriku pulang ke rumah Mbah
Kotim.

Begitu aku menurunkan istriku yang tertatih-tatih dari kendaraan
“Kenapa, Jeng Yati,” katanya mendekat dan kami berdua memapah istriku, aku
merasakan tangan kanan Mbah Kotim memapah dibawah ketiak kanan istriku dan
ku lihat sempat-sempatnya tangan kanan Mbah Kotim meremas remas payudara
kanan istriku.

“Kenapa Jeng Yati?” Mbah Kotim terus menanyai istriku bukan aku.
“Pak Cariiiik, mbaah,” istrikupun terisak tangan kanannya meremas
pinggangku seirama dengan remasan tangan kanan Mbah Kotim di payudara
kanannya.

“Gimana, si Towo ini,” katanya sambil terus memapah sambil meremas remas
payudara istriku dan tangan keriput itu bahkan memencet putting susu
istriku yang mulai mendesah.

Sepanjang jalan ke dalam rumah Mbah Kotim terus meremasi payudara kanan
istriku dan tangan kiri Mbah Kotim pun beraksi meremasi payudara kiri
istriku.

Sesampai di depan kamar yang tertutup di belakang ruang tamu itu, Mbah
Kotim menghentikan langkahnya dan melepas papahan nya untuk membuka pintu
dan bau kemenyan begitu menyengat yang mebuat istriku lunglai akan pingsan
dan matanya tertutup.

“Masukkan sini, mas.” katanya dan akupun mematuhi permintaannya.
“Istri mas kena pelet ini, saya akan mengobatinya, dudukkan di tempat
tidur ini,”katanya selanjutnya.

Akupun mendudukkan istriku, dan Mbah Kotim membenarkan posisi istriku
sehingga kini istriku duduk menyelonjorkan kakinya.
“Mas duduk di belakang Jeng Yati agar Jeng Yati bisa bersandar ke
sampeyan,” katanya memerintahkan aku.

Kepala istrikupun bersandar ke pundakku. Kulihat tangan kanan Mbah Kotim
memijat pergelangan kaki kiri istriku dan tumit istriku tanpa melepas
sepatu hak tingginya.
Beberapa saat kemudian “eeeh… heeehh….hhhhh ……” istrikupun mendesah desah
lutut kanannya mulai terangkat.
“Mas, harus ikhlas, yaa…,” aku diam.
“Kalau mas nggak ikhlas, ya nggak tak teruskan,” katanya.
“Memangnya kenapa, mbah?” tanyaku sedikit heran
“Begini, mungkin peletnya sudah merasuk ke tubuh istri sampeyan, jadi mas
harus ikhlas atas pengobatan saya” katanya kemudian terdiam sorot matanya
kini tertuju ke selangkangan istriku yang semakin mendesah dan lutut
kirinya semakin terangkat sehingga rok span elastisnya mulai tersingkap
sehingga paha mulusnya mulai tampak.

“Maksudnya apa sih, mbah?” tanyaku lagi.
“Saya nggak akan tanya sebelum hati sampeyan mantap dan ikhlas,” katanya
sambil memijat kaki kiri istriku agak keras hingga istriku menarik kaki
kirinya.
“Kalau gitu ya, mbah.” kataku. Dalam hatiku “lebih baik sama Mbah Kotim
saja daripada banyak pria tua yang ingin menyetubuhi istriku”(Aku teringat
dengan kata-kata Mbah Kotim tadi malam, kalau istriku dijadikan pelacur
orang-orang yang berilmu tinggi)
“Wah rupanya anda mantap dengan Mbah Kotim saja” katanya seolah mengerti
kata hatiku.
“Kurang ajar orang tua ini, tapi bagaimana ya? Pasti dia akan meminta
jatah menyetubuhi istriku terus kalau ku iyakan……” batinku dan aku
terkejut ketika Mbah Kotim berkata,” Jangan kuatir, hanya saya saja kok
biar aku bisa melindungi istri sampeyan dan lagian istri anda keenakkan
tadi malam, sampai tadi pagipun dengan senang hati,”

Hatikupun berkecamuk
“Ya, sudah….,”kataku mantap

Mbah Kotim menggeser duduknya maju sehingga pantatnya sejajar dengan paha
istriku. Tangan kanannya mengusap muka istriku dan istrikupun membuka
kedua matanya walaupun tubuhnya tetap lunglai.

“Maas, badanku sakit semua,”katanya lirih
“Ya, ya, Mbah Kotim akan menyembuhkanmu, dik,” kataku
“Maaf, Jeng Yati, tadi jeng habiskan, ya,” kata Mbah Kotim
“Apanya, mbah?” tanya istriku
“Punya pak carik,” katanya
“Ya, mbah pejunya pak Carik tadi saya telan,”kata istriku tanpa malu yang
membuatku panas dingin tak karuan.
Mbah Kotim menyusupkan tangan kanannya di blazer kuning istriku dan mulai
mengelus memutar ke seluruh permukssn perut istriku dan “heek …. heeek”,
tangan kiri Mbah Kotim pun memegang tengkuk istriku tangan kanannya
menyambar sarung di tempat tidur bagian bawah dan meletakkan di dada
istriku “byoor byoor” istrikupun muntah sampai akhirnya mengeluarkan air
mani pak Carik.

“Istri sampeyan tetap lemah tadi ….,” belum selesai Mbah Kotim berkata,
istriku menyahut
“aku dikentot Pak carik, mbah ……”

Se telah meletakkan sarung, Mbah Kotim pun duduk pantatnya menempel sisi
kanan paha istriku dan tangan kanan Mbah Kotim mulai memijat lutut dan
betis kiri istriku.
“Mbaaah ….,” desis istriku dan lutunya terangkat ke atas sehingga rok
spannya kembali tersingkap dan paha mulusnya sebelah kiripun terpampang
jelas.
“Mbaaahh …..,” istriku mendesah lagi ketika tangan keriput itu menjelajahi
paha kiri istriku dan tangan Mbah Kotim menekan sedikit demi sedikit
sehingga kaki kiri istriku mulai terkangkang.
“Maaassss…. aku geliiii …..,” ketika tangan kanan keriput Mbah Kotim
semakin berani terus menyusup ke arah pangkal paha istriku. Mata Mbah
Kotim menatap mataku dan mata istriku bergantian.
“Aduuuuhh ….. Mbaaah eehh…. maasss ……,” desahan istrikupun semakin keras.
“Jeng Yati, ceritakan ke suamimu, kamu sakit kok mengaduh?” tanya Mbah
Kotim
“Eeeeehhh ….. ooohhh …. maaaaaas, ooohhh anuukuuuuu ….maaass,”kulihat ke
bawah tangan kanan Mbah Kotim menyusup sampai di pangkal paha istriku,
kedua tangan istriku meraih dan meremas kedua tanganku.
“Oooohh …..mbaaaaaaahh …… maaaaaaass……..” dan pinggul bahenol istrikupun
sedikit terangkat dan maju
“Jembutmu lebat, jeng, jembut istrimu lebat,” kata Mbah Kotim menatapku
dan istriku bergantian. “Nggak pakai celana dalam lagi……. ayo jeng
ceritakan pada kangmasmu….”
“Maaaaass ….empiiikuuuu oooh…. enaaaaakkkk maaass ….digosoook mbaah
Kotiiiiiiimmmm…”
Tak lama kemudian terdengar bunyi kecepak dari pangkal paha istriku dan
kontolku pun mulai bereaksi.
“Heeeh …. heeeeh ……oooohhhh kini iiitiiiiilkuuuuuu ooohh…. maaaaas …….
itiiiiiilkuuuu diiibuat mainaaaan maaaaaaas……….” istriku mengerang Mbah
Kotim pun mengkangkangkan kedua kaki istriku lebar-lebar dan berpindah
posisi dimana Mbah Kotim duduk diantara kedua kaki istriku menghadapku dan
istriku.
Kedua lutut Mbah Kotim menahan kedua kaki istriku yang terkangkang lebar
dan tangan Mbah Kotim menyingkap rok span elastis istriku hingga terlihat
pangkal paha istriku yang ditumbuhi bulu bulu lebat.

Praktek Kerja Nyata Part 3

About kosmoseks

KosmoSeks Bukanlah Blog Porno melainkan kumpulan informasi, tips dan trik sehat dalam hubungan seksual

Posted on September 5, 2011, in Cerita Dewasa, Daun Muda and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: